Ustadz ganteng ini laris diminta berdakwah. Perjalanan
hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam.
Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang
tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat mulai nomor ini.
Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya.
Aku lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih..., wajar saja. Apalagi jarak usia kami tidak berjauhan.
Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.
Namun, sebetulnya
Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi
anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela
keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia
tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.
Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua.
BERKEPRIBADIAN
GANDA
Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.
Memang, sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali.
Masa SMA memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah.
Dari perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan.
Aku jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA.
Si penerima telepon
malah diminta Umi untuk mengatakan, beliau tak anak bernama Jeffry. Hatiku
tercabik-cabik. Pedih rasanya tak diakui sebagai anak oleh Umi. Kuakui,
pastilah hati Umi sudah sedemikian sakitnya. Bayangkan, aku yang sebelumnya
sudah mengaku bertobat, malah kembali memilih jalan yang salah. Meski aku sudah
bersumpah demi Tuhan tidak memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah
puncak kemarahan Umi Sungguh bersyukur, Allah masih berkenan menolongku. Datang
seorang gadis cantik dalam hidupku. Ia mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya,
banyak gadis meninggalkanku sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta.
Gadis bernama Pipik Dian Irawati ini seorang model sampul sebuah majalah remaja
tahun 1995, asal Semarang.
Tentu saja keluargaku
tak ada yang tahu, karena sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka baru tahu
sekarang, setelah membaca kisah hidupnya di berbagai media. Sementara itu, aku
sibuk tur keluar kota sebagai model, sehingga kami sering tak ketemu. Akhirnya
kami putus. Waktu akhirnya ketemu lagi, ternyata dia sudah punya pacar lagi.
Karena masih sayang, aku sering membawakannya hadiah dan memberi perhatian.
Setelah Jeffry putus dari pacarnya, kami kembali bersatu.
Tapi mungkin rezeki kami
bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami
hanya membawa pulang Rp 200 – 300. Akhirnya kami berhenti berjualan kue.
Kehidupan kami selanjutnya kami jalani dengan penuh perjuangan sekaligus
kesabaran.
Aku sendiri tak jera
memberi masukan padanya untuk mengubah hidup. Kami sama-sama saling belajar
menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan, hidupnya mulai
berubah menjadi lebih baik, terutama setelah aku hamil. Mungkin dia sendiri
sudah capek dengan kehidupannya yang seperti itu.
Kebahagiaan kami
bertambah ketika tahun 2000 itu, lahir anak pertama kami, Adiba Kanza Az-Zahra.
Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Algifari juga hadir di tengah
kami. Mereka, juga istriku, adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan
kami makin lengkap rasanya.
Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.
Orang bilang, anak
tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang
jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua
kesal. Di pesantren, aku sering berulah.
Salah satu kenalakanku,
di saat yang lain salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari
pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai
hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.
Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di pesantren.
Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.
Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di pesantren.
Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.
KENAL DUNIA MALAM
Memang, sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali.
Masa SMA memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah.
Dari perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan.
Aku jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA.
MAIN SINETRON
Aku mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar.
Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka.
Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat peran.
Tahun 1990, aku main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa? Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari beliaulah aku menuruni darah seni.
Ditentang Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini. Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah.
Sebagai bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata.
Pada saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar.
Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku.
Aku mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar.
Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka.
Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat peran.
Tahun 1990, aku main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa? Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari beliaulah aku menuruni darah seni.
Ditentang Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini. Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah.
Sebagai bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata.
Pada saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar.
Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku.
“DI KABAH,
KUMINTA AMPUNAN ALLAH”
Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam.
Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam.
Sejak kenal
sinetron, aku makin menyukai dunia akting. Aku tak peduli meski Apih menentangku.
Namun, belakangan aku paham, di balik etidaksetujuannya, sebetulnya orang
menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa
rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang kumainkan ditayangkan.
Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.
Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus berlangsung.
Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.
Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus berlangsung.
KECANDUAN KIAN
PARAH
Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.
Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya.
Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.
Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.
Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan.
Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.
Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya.
Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.
Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.
Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan.
NAMA DICORET
Tak perlu aku
menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas, suatu hari
aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Aku
benar-benar ketakutan! Aku jadi gampang curiga pada siapa saja. Aku selalu
berburuk sangka pada apa pun. Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap
digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar,
dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku
sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku.
Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila.
Pada saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk playboy.
Di saat aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik.
Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku.
Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila.
Pada saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk playboy.
Di saat aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik.
Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku.
DIAJAK UMI UMRAH
Sungguh, aku merasa
sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain
kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri.
Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur
aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya
penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi.
Aku juga jadi takut
mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang karena aku
tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek. Sebetulnya
sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut mati itulah
yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan
seperti ini, yaitu Allah.
Aku teringat kembali
pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku
membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh
meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang luar biasa. Betapa pun
sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi
lalu mengajakku berumrah.
Dengan kondisiku
yang masih labil dan rapuh, kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini aku berniat
sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, aku mengalami beberapa peristiwa
yang membuatku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di Madinah,
Umi mengajakku ke Raudhoh. Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi
terus meminta ampunan pada Allah.
Aku lalu keluar,
berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Aku bersalawat. Begitu keluar dari pintu
masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat tenaga,
tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar pada tembok.
Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku menyesali
dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu.
Bagai sebuah film
yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang jelas di
pelupuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang besar.
Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di Mekkah,
di hadapan Kabah, aku merapatkan badan pada dindingnya.
Aku bersandar,
menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang kulakukan.
Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada
Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat untuk orang
lain, aku minta disembuhkan. Aku yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya.
Setelah pulang beribadah, aku membaik. Aku mencoba bertahan dalam kondisi
bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa.
BIDADARI CANTIK
JADI PEMBANGKIT HIDUP
Setelah berkali-kali
jatuh-bangun, akhirnya Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih
yang akhirnya menjadi istri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya
menjadi ustaz cukup berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah. Sepulang
umrah, aku mencoba hidup lurus. Namun, lagi-lagi aku tergoda.
Suatu malam, aku
dan teman-teman berencana nonton jazz di Ancol. Aku memperingatkan mereka untuk
tidak bawa narkoba, karena kami sudah sepakat
untuk berhenti memakai. Ternyata, salah satu temanku masih saja membawa cimeng.
Apesnya, kami dirazia polisi di depan Hailai.
Teman-temanku yang
lain kabur. Tinggallah aku, temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain.
Aku sulit kabur karena mobil yang kami pakai adalah mobilku. Akhirnya kami
bertiga dibawa ke kantor polisi dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti
membawa. Kucoba telepon Umi untuk menjelaskan masalah ini, tapi Umi tak mau
menerima teleponku.
CUEK SAAT PACARAN
(Berikut ini adalah
penuturan Pipik: Aku pertama kali melihatnya sedang makan nasi goreng di
Menteng sekitar tahun 1996 – 1997. Rambutnya gondrong. Waktu itu, aku bersama
Gugun Gondrong. Setahuku, Jeffry adalah pemain sinetron Kerinduan, karena aku
mengikuti ceritanya. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi Gugun melarangku.
Tak tahunya, waktu
buka puasa bersama di rumah Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya.
Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan
saling menelepon. Aku enggak tahu kapan kami resmi pacaran, karena enggak
pernah “jadian”. Dia juga tak pernah menyatakan cinta. Waktu pacaran, dia cuek
setengah mati.
Awalnya, semangatnya
boleh juga. Pertama kami pergi bareng, dia datang ke rumah di Kebon Jeruk, di
tengah hujan deras dari rumahnya di Mangga Dua. Jeffry naik taksi dengan
memakai jins dan sepatu bot. Ia yang hanya bawa uang Rp 50 ribu, mengajakku
nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam bioskop, kami seperti nonton
sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton.
Sejak itu, kami
sering jalan bareng, karena kami memang hobi nonton dan makan. Semakin dekat
dengannya, aku makin tahu ternyata dia pemakai narkoba kelas berat.
Teman-temanku mulai bertanya, mengapa aku mau berpacaran dengannya. Aku sendiri
tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa sayang yang sudah terlanjur muncul
dalam hati yang membuatku mau bertahan. Hatiku terenyuh dan tak mau
meninggalkan dia sendiri.
JUALAN KUE
Pipik sangat berarti
buatku. Dia mengerti, peduli dan perhatian padaku. Padahal, aku sempat hampir
menikah dengan orang lain. Ternyata Allah sayang padaku. Allah menunjukkan,
wanita yang nyaris kunikahi itu bukan untukku. Pipik bagai bidadari yang datang
dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa
perubahan besar dalam hidupku.
Aku mendatangi Umi
dan minta izin untuk menikah. Luar biasa, Umi tetap menerimaku dengan segala
kasih sayangnya. Sambil menangis, Umi mengizinkanku menikah. Aku sendiri
terbilang nekat. Sebab, waktu itu aku tak punya-apa. Badan pun kurus kering,
dengan mata belok, dan penyakit paranoid yang kuderita tak kunjung sembuh.
Bahkan, pekerjaan pun aku tak punya.
Untuk menghindari
maksiat, kami menikah di bawah tangan pada tahun 1999. Teman-temanku yang
sekarang sudah meninggal karena over dosis, sempat menghadiri pernikahanku.
Setelah itu, kami tinggal di rumah Umi. Sekitar 4 – 5 bulan setelah itu, kami
menikah secara resmi di Semarang.
Namun, menikah
rupanya tak cukup menghentikan kebandelanku. Istriku pun merasakan getahnya.
Aku pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli
barang haram tersebut.
Kesulitan lain, aku
dan Pipik sama-sama menganggur. Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari
kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami
titipkan ke toko kue.
MAKAN SEPIRING
BERDUA
(Kesetiaan Pipik
begitu luar biasa. Simak penuturannya berikut ini. Perasaan sayang yang sangat
kuat membuatku mantap menikah dengannya. Aku tak peduli lagi meski dia pecandu,
bahkan pernah mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya. Aku
banyak mengalami hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin aku
sudah tidak bersamanya lagi.
Awal menikah, kami
tinggal di rumah Umi. Meski hidup seadanya, beliaulah yang membiayai hidup
kami. Aku dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena memang
benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami
penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja.
Tapi aku yakin,
Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. Aku
yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku. Beruntung, Umi
sangat sayang padaku.
HIDUP DI JALAN
ALLAH
Pelan-pelan, aku
kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun
2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal
karena kanker otak, memintaku menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga
Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.
Fathul memang
seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan
padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop
itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa
kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan.
Selanjutnya, kakakku
memintaku untuk mulai menjadi ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian kupilih.
Betapa indah hidup di jalan Allah. Aku mulai berceramah dan diundang ke acara
seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuanganku tak semudah membalik
telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan
pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar.
Alhamdulillah, makin
lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak
diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve.
Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa
saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga
punya hak untuk mendapatkan dakwah.
Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang
lebih baik. Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik
untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta
pilihlah teman yang baik.
Itu adalah kisah seorang alim ulamah, yg lebih akrab di panggil UJE atau Ustadz gaul yg berperan besar pada anak-anak remaja yg mencari jati diri khususnya di Indonesia ini... satu dakwah beliau yg paling aku ingat sampai sekarang.... "Alloh Swt suka lihat orang yang sudah tua beribadah, tapi Alloh Swt lebih suka lagi remaja yang beribadah".
dan Inalillahi wainailahi'rojiun, tepat hari ini Jum'at tanggal 26 April 2013, Alloh Swt lebih menyayangi beliau,.. dan tinggal kita yg masih hidup di bumi Alloh Swt ini menunggu antrian ke berapa kita di panggil utk menghadap-NYA "Alloh Swt"...
copyright Ustadz @jefri_buchori
(dari berbagai sumber)
(dari berbagai sumber)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar